Main menu:

Site search

May 2012
T W T F S S M
« Jun    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Categories

Tags

Blogroll

Apa Itu Sholawat Wahidiyah ?

Sholawat Wahidiyah adalah rangkaian doa-doa Sholawat Nabi SAW seperti tertulis dalam Lembaran Sholawat Wahidiyah, termasuk kaifiyah (cara dan adab /tatakrama) dalam mengamalkannya. Mulai disiarkan dan diamalkan secara meluas sejak tahun 1963. Sholawat Wahidiyah, seperti sholawat-sholawat yang lain, boleh diamalkan oleh siapa saja, tanpa syarat adanya sanad atau silsilah, karena sanad dari segala sholawat adalah Shohibus Sholawat itu sendiri, yakni Rosululloh SAW.
Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah bukan merupakan suatu aliran atau faham agama baru; dan tidak mengajarkan faham-faham atau tindakan yang bertentangan dengan Syari’at Islam dan hukum negara/pemerintah, atau ajaran yang menyimpang dari aqidah Ahlis Sunnah Wal-Jama’ah. Sholawat Wahidiyah tidak termasuk dalam kategori jamiyah Thoriqoh, tetapi berfungsi sebagai thoriqoh dalam arti “JALAN” menuju sadar kepada Alloh SWT wa Rosuulihi SAW. Sholawat Wahidiyah telah diijazahkan secara mutlak oleh Muallifnya untuk diamalkan dan disiarkan dengan ikhlas (tanpa pamrih) dan bijaksana, kepada masyarakat luas tanpa pandang bulu dan golongan.
Mengamalkan Sholawat Wahidiyah tidak disertai syarat-syarat/ketentuan khusus yang mengikat, tetapi harus dengan adab (tatakrama), hudlur dan yakin kepada Alloh SWT, mahabbah (mencintai) dan ta’dhim (menghormat) kepada Rosululloh SAW.

A. Sholawat Wahidiyah adalah rangkaian do’a Sholawat Nabi (Shollallohu ‘alaihiwasallam) sebagaimana tertulis di dalam lembaran Sholawat Wahidiyah, termasuk tatacara dan adab pengamalannya;

B. Sholawat Wahidiyah ; Alhamdulillah, Bifadl-lillah warahmatih, pengamalnya banyak dikaruniai berbagai manafaat dan faedah ; antara lain dan terutama berupa kejernihan hati, ketenangan batin, ketenteraman jiwa, peningkatan daya ingat, kesadaran, lebih mengenal (ma’rifat) dan pendekatan diri kepada ALLOH WA ROSULIHI (Shollallohu ‘alaihiwasallam). Disamping manfaat lainnya, lahiriyah dan batiniyah, duniawi dan ukhrowi ;

C. Sholawat Wahidiyah membimbing pengamalnya agar menjadi manusia yang peduli dan lebih berguna (anfa’u) bagi dirinya sendiri, keluarga, nusa, bangsa, negara, sesama ummat manusia, bahkan bagi seluruh makhluk ciptaan ALLOH pada umumnya.

“Sebaik-baik manusia ialah orang yang lebih banyak manfaatnya bagi orang lain “
(H.R. Al-Qudlo’i dari Jabir, Hadits Hasan / Jami’us Shoghir)

Setiap insan bisa memberi manfaat kepada yang lain; Misalnya ; dengan ilmunya bagi yang berilmu, dengan hartanya bagi yang berharta, dengan tenaganya bagi yang diberi kekuatan tenaga, atau dengan do’a-do’a permohonannya bagi yang mau; Dengan Sholawat Wahidiyah pengamalnya dibimbing agar selalu berdo’a untuk dirinya sendiri dan memberi manfa’at dengan mendo’akan kepada yang lain; (Lihat kandungan do’a dalam Sholawat Wahidiyah dan Terjemahnya;)

D. Sholawat Wahidiyah seperti sholawat yang lain; boleh diamalkan oleh siapa saja tanpa disyaratkan adanya sanad atau silsilah seperti yang berlaku dalam amaliah Thoriqoh; karena seluruh sholawat, sanadnya adalah Shohibush sholawat sendiri, yaitu Rosululloh (Shollallohu ‘alaihiwasallam) (Tafsir As-Showi Juz III hal. 323, Darul fakri, Bairut / Sa’adatud Daroini, hal. 90 /Darul Fikri Bairut )

E. Sholawat Wahidiyah bukan merupakan suatu Ikatan atau Jam’iyah Thoriqoh yang mempunyai syarat-syarat tertentu seperti yang lazim di dalam thoriqoh-thoriqoh yang kita kenal (Mu’tabaroh); Akan tetapi juga dapat disebut “Thoriqoh” (secara lughowi / bahasa) dalam arti “JALAN” atau “SARANA” menuju wushul/sadar kepada ALLOH WAROSULIHI.

F. Sholawat Wahidiyah mempunyai kandungan suatu sistem dan bimbingan praktis yang disebut AJARAN WAHIDIYAH. (Lihat penjelasan Ajaran di dinding DPC PSW SURABAYA ).

G. Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah mulai disiarkan pada tahun 1963 dan telah diberikan ijazah secara mutlak oleh Muallifnya (Hadlrotus Syekh Al-Mukarrom KH Abdoel Madjid Ma’roef Kediri, Jawa Timur). ?Siapa saja dan dari manapun memperolehnya telah diberi izin mengamalkan dan menerapkannya, bahkan dianjurkan agar supaya menyiarkan kepada masyarakat luas tanpa pandang bulu dengan ikhlas dan bijaksana.

H. Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah boleh / bisa diamalkan oleh siapa saja yang sudah memiliki amalan-amalan lain; seperti telah mengikuti Jam’iyah Thoriqoh Mu’tabarah, Majelis-majelis dzikir, Jam’iyah Istighotsah, atau amalan yang bersifat pribadi, dengan tanpa harus meninggalkan amaliyahnya, bahkan akan lebih terdukung penerapan batinnya dengan Ajaran Wahidiyah;

I. Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah bukan merupakan suatu aliran atau faham agama baru; dan tidak mengajarkan faham-faham atau tindakan yang bertentangan dengan Syari’at Islam (Misalnya ada perkataan :
“Pengamal Wahidiyah boleh meninggalkan sholat 5 waktu atau puasa wajib, dll.”
Jika perkataan itu dari pengamal sendiri itu suatu penyimpangan yang harus diluruskan, dan jika dari luar pengamal Wahidiyah, itu suatu kesalahfahaman.
Yang ada dalam methode Penyiaran Wahidiyah, adalah :
“Orang yang belum melakukan sholat atau orang yang ahli kemunkaran (kemunkaran apa saja), bahkan non muslimpun (dari agama dan aliran apa saja) boleh mempelajari dan mengamalkan Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah.”
Dengan harapan agar mereka segera menperoleh hidayah (petunjuk) dari ALLOH sehingga mau kembali ke jalan yang diridloi-NYA)dan hukum negara / pemerintah, atau ajaran yang menyimpang dari aqidah Ahlis Sunnah Wal-Jama’ah; seperti faham Hulul, Wahdatul-wujud, Jabariyah, Qodariyah, Syi’ah, Ilmu Sejati dan sebagainya ;

J. Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah bukan hasil mimpi seseorang (Muallifnya), bukan sholawat dari bangsa Jin atau syetan (Beralasan tuduhan inilah sebagian orang melarang / mengharamkan amalan Sholawat Wahidiyah. Selain itu ada lagi yang beralasan “tidak adanya sanad dan silsilah” dalam Sholawat Wahidiyah.( Lebih jelasnya lihat huruf D. di atas ) sebagaimana tuduhan orang-orang yang tidak bertanggungjawab, akan tetapi Sholawat Wahidiyah disusun oleh Muallifnya dalam keadaan sadar yang disertai dorongan batiniyah dan keprihatinan terhadap situasi alam pada saat itu. Masa penyusunan Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah sampai lengkap seperti dalam Lembaran Sholawat Wahidiyah yang diedarkan secara umum, memerlukan waktu 18 tahun; Yakni mulai tahun 1963 sampai 1981.

K. Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah tidak mengajarkan praktek-praktek pengkultusan dan penghormatan kepada seseorang yang berlebihan atau melebihi batas-batas yang ditentukan dalam syari’at Islam.
Misalnya kalau menemui seorang atasan (kyai / pemimpin)-nya harus berjalan dengan lutut (ndodok / jongkok / merangkak), dan sebagainya. Kalau hal seperti itu dilakukan oleh Pengamal Wahidiyah itu termasuk “PENYIMPANGAN” dari Ajaran Wahidiyah.

L. Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah bagaikan suatu obat mujarab bagi penyakit-penyakit batiniyah, dan reaksinya dalam batin / hati hanya bisa dirasakan oleh seseorang jika dia mengamalkan (istilah obat ‘mengkonsumsi’) sesuai dengan aturan; Tidak cukup hanya dipelajari / diketahui / dihafalkan komposisi dan kegunaannya.

IBLIS BERSELIMUT WALI

Seorang hamba sejati dia tidak pernah ada pengakuan merasa dirinya baik dan suci.

Seorang wali sejati dia senantiasa menutupi dirinya dengan bingkai kerendahan.

Hatinya selalu dingin sehingga tercermin dalam sikap dan sifatnya selalu penuh dengan ketawadhuan dan kasih sayang, ucapannyapun lembut, tidak pernah sekalipun menyakiti dan menyalahkan orang lain. Dan ketika ia dicaci, dihina, dan difitnah ia diam tidak membalas, hanya lantunan doa didalam hati :

“Semoga Alloh memberikan hidayah serta mengampuni orang yang telah mencaci, menghina dan memfitnahku”

Berbeda lagi dengan Iblis Laknatulloh

Pengakuan demi pengakuan ia selalu nampakkan dengan jubah kemuliaan dan sorban keakuan, dia selalu menonjol ingin dihormati, walaupun terlihat samar berbalut dengan ketawadhuan.

Ucapannyapun bagaikan lebah meyengat musuhnya, penuh dengan racun-racun fitnah, mengadu domba antara sesama golongan atau beda keyakinan, sehingga perasaan akulah yang paling benar, dan yang lain salah, seolah-olah ia membawa perdamaian, akan tetapi membawa permusuhan yang diselimuti dengan kesucian dan kemuliaan yang ia tunjukkan.

Ketika ia dicaci, dihina dan difitnah, hatinya senantiasa marah, senantiasa ada emosianal yang tinggi, senantiasa tidak lunak, atau senantiasa tidak billah, iapun kebakaran jenggot, seperti bensin ketika tersulut api ia meledak ledak, penuh amarah, penuh dengan kebencian, dan bagaimana ia berfikir untuk membalas lebih kejam daripada yang ia terima.

Mari kita koreksi, posisi kita sekarang, sikap serta sifat kita bagaimana?

Apakah kita mencerminkan seorang wali, yang mempunyai sifat kasih sayang? ataukah kita mencerminkan sifat seorang iblis yang mempunyai rasa benci terhadap sesama?

Walaupun ahli bermujahadah, walaupun ibadah setinggi langit, dan walaupun disanjung sanjung oleh umat manusia, apabila hati tidak digantungkan kepada Alloh, yang ada kebagusanku, alimku, ilmuku, bahkan akulah seorang wali yang harus dihormati.

Maka itulah iblis yang beselimut wali, itulah iblis yang berselimut dengan kemuliaan. Awas!

Kalau memang mengira bahwa saya adalah orang baik, saya adalah orang terhormat, dan saya orang yang mulia, anda keliru besar, jujur saya tidak pantas menjadi hamba apalagi menjadi kekasih Alloh, karena begitu banyak dosa dan noda yang telah ku ukir dengan tinta merah diatas lembaran lembaran putih.

Maka ingatlah wahai saudaraku

Seorang wali adalah suci, seorang kekasih Alloh hatinya selalu nol tidak merasa apa-apa, hatinya selalu pasrah digantungkan bersama Alloh, dan hatinya selalu Billah, karena ia sadar bahwa semua itu adalah skenario yang harus dijalankan.

Oooohh.. betapa indahnya ada salah satu seorang anak manusia yang berhati dan berjiwa seperti Rasul itu.

Semoga kalianlah orang yang saya maksud…